Sabtu, 08 Maret 2014

PSIKOLOGI KOMUNIKASI

<![endif]-->

KOMUNIKASI INTERPERSONAL





Disusun Oleh :
               1.      AGUNG DWI SAPUTRO               { 115 2000 289 }
               2.      WINDA YUNIARTI                        { 115 2000 255 }
               3.      RAHMAD WIJANARKO               { 115 2000 265 }
               4.      GALENDRA SANDI WIJAYA       { 115 2000 272 }



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA
SUKOHARJO
2013





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Komunikasi merupakan hal terpenting dalam kehidupan  manusia yang  sejatinya sebagai makhluk sosial. Kodrat manusia yang saling membutuhkan menumbuhkan sebuah proses komunikasi antar sesama. Dapat dikatakan komunikasi interpersonal mengembangkan individu  dari dimennsi kesosialannya. Bersosialisasi dengan orang lain secara tidak langsung menunjukkkan konsep diri yang dimilikinya,  sehingga lebih mudah menemukan jati diri.
Secara umum manusia berkomunikasi dengan tujuan menyampaikan pesan. Pesan disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Keberhasilan sebuah komunikasi dipengaruhi oleh banyak hal, akan tetapi kemampuan komunikan memahami sebuah pesan                ( persepsi interpersonal ) sangat mendominasi. Persepsi interpersonal dalam komunikasi interpersonal yang sesuai atau tidak sesuai dengan konsep diri akan menunjukkan atraksi interpersonal seseorang sehingga seberapa jauh jarak keakraban dapat dilihat.
Perilaku kita dalam komunikasi interpersonal amat bergantung pada persepsi interpersonal karena ketika komunikan tidak mampu memahami pesan dari komunikator maka akan mengakibatkan kegagalan komunikasi atau miskomunikasi yang dapat menyebabkan kebutuhan tak terpenuhi. Oleh sebab itu persepsi interpersonal sangat penting dalam komunikasi interpersonal bagi individu yang hidup di lingkungan sosial.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah persepsi interpersonal itu?
2.      Bagaimana konsep diri dalam komunikasi interpersonal ?
3.      Bagaimana atraksi interpersonal dapat terjadi ?
4.      Bagaimana hubungan interpersonal dalam komunikasi intrapersonal ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Memahami  pengertian persepsi interpersonal.
2.      Mengetahui letak konsep diri dalam komunikasi interpersonal.
3.      Memahami proses  terjadinya atraksi interpersonal .
4.      Mengetahui hubungan interpersonal dalam komunikasi intrapersonal.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Persepsi Interpersonal
a.      Pengertian Persepsi Interpersonal
Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan informasi yang tertangkap oleh alat indera. Persepsi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seorang ( partner komunikasi ), yang berupa pesan verbal maupun nonverbal. Persepsi memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan komunikasi. Artinya, kecermatan dalam mempersepsi stimuli inderawi mengantarkan kepada keberhasilan komunikasi. Untuk tidak mengaburkan istilah dan untuk menggarisbawahi manusia (bukan benda) sebagai objek persepsi, disini digunakan istilah persepsi interpersonal. Persepsi pada objek selain manusia kita sebut saja persepsi objek.
Mempersepsi karakteristik seseorang akan berhadapan dengan aspek fisik dan mental, lahiriah dan batiniah, jasmani dan rohani, sesuatu yang kelihatan dan tidak kelihatan. Oleh karena itu mempersepsi orang jauh lebih sulit daripada mempaersepsi objek ( Benda ).
Mempersepsi Objek
Mempersepsi Manusia
Stimuli ditangkap oleh indera
Tidak seluruh stimuli dapat ditangkap oleh indera.
Hanya menanggapi sifat-sifat luarnya saja.
Harus memahami apa yang tidak tampak dan tidak tertangkap oleh indera.
Ketiak ditafsir, objek diam     ( tidak bereaksi )
Bereaksi secara dinamis ketika ditafsirkan. Reaksi itu dapat mengalabuhi dan membelokkan ketepatan dan kecermatan persepsi.

b.      Persepsi interpersonal dalam teori  
1.         Teori spiral kesunyian
Teori spiral kesunyian/kebisuan diperkenalkan oleh Elizabet Noelleneuman, seorang guru besar ilmu komunikasi dari institute fur publiztik jerman melalui tulisannya yang berjudul the spiral of silence pada tahun 1984. Teori spiral kesunyian berkaitan dengan bagaimana terbentuknya pendapat umum maupun pendapat pribadi, setelah dalam diri seseorang memperoleh terpaan informasi dari komunikasi massa, komunikasi interpersonal, dan persepsi individu.
Menrurut teori ini, individu pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi sendirian mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu. Individu-individu tersebut akan mengamati lingkungannya, memperhatikan opini-opini di media massa, mempertimbangkan hasil komunikasi interpersonal dengan individu lain, dan juga tidak melupakan persepsi individu. Setelah semuanya dipelajari maka ia akan dapat menyimpulkan pandangan-pandangan mana yang bertahan atau yang paling popular, sehingga pendapat yang dominan dan popular ini akan menjadi pendapat umum.
2.      Teori Konvergensi
Teori konvergensi (convergence theory of communication), mengasumsikan bahwa komunikasi sebagai proses penciptaan dan pembagian bersama informasi untuk tujuan saling pengertian bersama ( mutual understanding ). Pola komunikasi interpersonal model konvergensi, berpengaruh pada objektivitas persepsi seseorang kepada orang lain. Artinya, ada perubahan persepsi antara sebelum dan sesudah proses komunikasi. Intinya, komunikasi interpersonal yang berkesinambungan akan membawa dampak kepada perubahan persepsi di kedua belah pihak. Tatkala anda berkomunikasi dengan saya, maka persepsi anda kepada diri saya dan sebaliknya, akan mengalami perubahan.

c.       Pengaruh Faktor-faktor Situasional Pada Persepsi Interpersonal
·         Deskripsi Verbal
Menurut eksperimen Solomon E. Asch, bahwa kata yang disebutkan pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya. Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai primacy effect. Menurut teori Asch, ada kata-kata tertentu yang mengarahkan seluruh penilaian kita tentang orang lain. Walaupun teori Asch ini menarik untuk melukiskan bagaiana cara orang menyampaikan berita tentang orang lain mempengaruhi persepsi kita tentang orang itu, dalam kenyataan kita jarang melakukannya
·         Petunjuk Proksemik
Proksemik adalah studi tentang penggunaan jarak daam menyamaikan pesan; istilah ini dilahirkan oleh antroplog intercultural Eward T. Hall. Hall membagi jarak kedalam empat corak; jarak public, jarak sosial, jarak personal, dan jarak akrab. Jarak yang dibuat individu dalam hubungannya dengan orang lain menunjukkan tingkat keakraban di antara mereka. Jadi, kita menganggap orang lain berdasarkan jarak yang dibuat orang itu dengan orang lain lagi, atau jarak  yang dibuat orang itu dengan kita. Kita juga dapat menetapkan persepsi kita dengan melihat caranya orang itu mengatur ruang.
·         Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues)
Petunjuk kinesik adalah persepsi yang didasarkan oleh gerakan tubuh orang lain yang ditunjukkan kepada kita. Beberapa penelitian membuktikan bahwa persepsi yang cermat tentang sifat-sifat dari pengamatan petunjuk kinesik. Begitu pentingnya petunjuk kinesik, sehingga apabila petunjuk-petunjuk lalin (seperti ucapan) bertentangan dengan petunjuk kinesik, orang mempercayai yang terakhir.
·         Petunjuk Wajah
Penelitian Ekman dikritik karena ada kemungkinan keseragaman persepsi wajah ini disebabkan kontak kultural bangsa-bangsa. Diantara berbagai petunjuk non verbal, petunjuk fasial adalah yang paling penting dalam mengenali perasaan persona stimuli. Ahli komunikasi non verbal, Dale G. Leather (1976:21), menulis; “Wajah sudah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Inilah alat yang sangat penting dalam menyampaikan makna. Dalam beberapa detik ungkapan wajah dapat menggerakkan kita ke puncak keputusan. Kita menelaah wajah rekan dan sahabat kita untuk perubahan-perubahan halus dan nuansa makna dan mereka,pada gilirannya, menelaah kita”.
Walaupun petunjuk fasial dapat mengungkapkan emosi, tidak semua orang mempersepsi emosi itu dengan cermat. Ada yang sangat sensitive pada wajah, ada yang tidak. Sekarang para ahli psikologi sosial sudah menemukan ukuran kecermatan persepsi wajah itu dengan tes yang disebut FMST-facial meaning sensitivity test (tes kepekaan makna wajah). Dengan tes ini, kepekaan kita menangkap emosi pada wajah orang lain dapat dinilai skornya.
·         Petunjuk Paralinguistik
Yang dimaksud paralinguistik ialah cara orang mengucapkan lambing-lambang verbal. Jadi, jika petunjuk verbal menunjukkan aoa yang diucapkan, petunjuk paralinguistik mencerminkan bagaimana mengucapkannya. Ini meliputi tinggi-rendahnya suara, tempo bicara, gaya verbal (dialek), dan interaksi (perilaku ketika melakukan komunikasi atau obrolan). Dialek yang digunakan menentukan persepsi juga. Bila perilaku komunikasi (cara bicara) dapat memberikan petunjuk tentang kepribadian persona stimuli, suara mengungkapkan keadaan emosional.
·         Petunjuk Artifaktual
Petunjuk artifaktual meliputi segala macam penampilan (appearance) sejak potongan tubuh, kosmetik yang dipakai, baju, pangkat, badge, dan atribut-atribut lainnya. Bila kita mengetahui bahwa seseorang memiliki satu sifat (misalnya, cantik atau jelek), kita beranggapan bahwa ia memiliki sifat-sifat tertentu (misalnya,periang atau penyedih); ini disebut halo effect. Bila kita sudah menyenangi seseorang, maka kita cenderung melihat sifat-sifat baik pada orang itu dan sebaliknya.
Selain berbagai petunjuk diatas, petunjuk verbal juga mempunyai peran. Yang dimaksud dengan petunjuk verbal disini adalah isi komunikasi persona stimuli, bukan cara. Misalnya, orang yang menggunakan pilihan kata-kata yang tepat, mengorganisasikan pesan secara sistematis, mengungkapkan pikiran yang dalam dan komprehensif, akan menimbulkan kesan bahwa orang itu cerdas dan terpelajar.

d.      Pengaruh Faktor-faktor Personal Pada Persepsi Interpersonal
·         Pengalaman
Pengalaman mempengaruhi kecermatan persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman kita bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang pernah kita hadapi. Inilah yang menyebabkan seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres pada wajah anaknya atau pada petunjuk kinesik lainnya.
·         Motivasi
Proses konstruktif yang banyak mewarnai persepsi interpersonal juga sangat banyak melibatkan unsur-unsur motivasi. Diantara mootivasi yang pernah diteliti antar lain motif biologis, ganjaran dan hukuman, karakteristik kepribadian, dan perasaan terancam karena pesona stimuli.
·         Kepribadian
Dalam psikoanalisis dikenal proyeksi, sebagai salah satu cara pertahanan ego. Proyeksi adalah mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara tidak sadar. Orang melempar perasaan bersalahnya pada orang lain. Pada persepsi interpersonal, orang mengenakan pada orang lain sifat-sifat yang ada pada dirinya, yang tidak disenanginya.
Kepribadian otoriter adalah sindrom kepribadian yang ditandai oleh ketegaran berpegang pada nilai-nilai konvensional, hasrat yang berkuasa yang tinggi, kekakuan dalam hubungan interpersonal, kecenderungan melemparkan tanggung jawab pada sesuatu diluar dirinya.

e.       Pengaruh Persepsi Interpersonal Pada Komunikasi Interpersonal
Persepsi interpersonal disebut inti komumikasi interpersonal, karena jika persepsi kita tidak akurat, tidak mungkin kita  berkomunikasi secara efektif. Persepsilah yang menentukan kita memilih suatu pesan dan  mengabaikan pesan yang lain , memilih seorang teman dan mengabaikan teman lain.
Dengan demikian, cara kita berkomunikasi secara interpersonal sangat dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap partner komunikasi. Apabila persepsi kita positif, kita akan melakukan komunikasi dengan nyaman. Sebaliknya apabila kita mempunyai persepsi negatif terhadap seseorang, maka kita akan berusa membatasi diri sehingga tidak berkomunikasi terlalu mendalam dengan orang tersebut. 

B.     Konsep Diri
a. Pengertian Konsep Diri
Jalaludin Rakhmad ( 1996 : 99 ) mendefinisikan konsep diri sebagai gambaran dan penilaian diri kita, pandangan dan perasaan kita tentang diri kita sendiri. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat ditegaskan bahwa setiap orang pastilah mengenali dirinya sendiri. Konsep diri merupakan factor yang sangat menentukan dalam berkomunikasi interpersonal karena setiap orang melakukan tindakan dilandasi oleh konsep diri.
Charles Horton cooley mengemukakan teori yang bernama looking glass self ( melihat diri dengan bercermin ). Artinya bahwa setiap orang dapat mengenali dirinya sendiri, dengan cara seolah-olah orang menaruh cermin di depannya, dan dengan demikian maka profil diri orang itu dapat dikenalinya. Dalam hal ini istilah “cermin” bersifat kiasan saja. Sesungguhnya kita tidak berhadapan dengan cermin, melainkan berhadapan dengan orang lain. Kepada orang itu kita tanyakan penilaiannya mengenali diri kita. Jadi penilaian orang atas diri kita itulah gambaran yang objektif tentang diri kita berdasarkan sudut pandang orang lain.

b.      Pengaruh konsep diri dalam komunikasi interpersonal
·         Nubuat yang dipenuhi sendiri
Kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep diri disebut sebagai nubuat yang dipenuhi sendiri. Sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri; positif atau negatif. Brooks dalam Rakhmat (2004:105), mengindentifikasi konsep diri manusia menjadi positif dan negatif. Adapun ciri orang yang memiliki konsep diri negatif :
1.      Peka pada kritik
2.      sangat responsif terhadap pujian
3.      Sikap hiperkritis, Sikap berlebihan dalam melakukan penilaian terhadap orang lain. ia selalu mencela, mengeluh, meremehkan, dan tak pandai dan tak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain.
4.      Merasa tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan, hingga ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tak dapat merasakan kehangatan persahabatan.
5.      Pesimis untuk bersaing dalam sebuah kompetisi.
Sebaliknya orang yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan lima hal:
1.      Yakin pada kemampuannya mengatasi masalah
2.      Merasa setara dengan orang lain
3.      Ia menerima pujian tanpa rasa malu
4.      Ia sadar, bahwa setiap orang mempunyai berbagai macam perasaan, keinginan dan   perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.
5.      Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
·         Membuka diri
Pengetahuan tentang diri akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi lebih dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan-gagasan baru, lebih cenderung menghindari sikap defensive, dan lebih cermat memandang diri kita dan rang lain.
·         Percaya diri
Keinginan untuk menutup diri, selain karena konsep diri yang negative timbul dari kurangnya kepercayaan kepada kemampuan sendiri. Orang yang tidak menyenangi dirinya merasa bahwa dirinya tidak akan mampu mengatasi persoalan. Orang yang kurang percaya diri akan cenderung sedapat mungkin menghindari situasi komunikasi. Ia takut orang lain akan mengejeknya atau menyalahkannya. Dalam diskusi, ia akan lebih banyak diam. Dalam pidato, ia berbicara terpatah-patah.
·         Selektivitas
Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa anda bersedia memuka diri. Dengan singkat konsep diri menyebabkan terpaan selektif, persepsi selektif, dan ingatan selektif.

c.       Faktor yang mempengaruhi konsep diri
Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi (2004:100) memaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri , antara lain:
1. Orang lain.
              Sebagai mana dibahasakan diatas bahwa orang lain mempunyai pengaruh terhadap individu dalam menyimpulakan konsep dirinya. Kita sepakat bahwa orang lain mempunyai pengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Tetapi, tidak semua orang lain mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Adayang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan diri kita. George Herbert Mead dalam Rakhmat (2004:101) menyebut mereka Significant others – orang lain yang sangat penting.
2. Kelompok rujukan
              Dalam bermasyarakat kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok masyarakat. Setiap kelompok mempunyai norma-norma tertentu. Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri dengan ciri-ciri kelompoknya. ketika kita menjadi anggota kelompok persatuan bulu tangkis, ikatan mahasiswa Universitas Trunojoyo madura, dan lain-lain.

C.    Atraksi Interpersonal
a.         Pengertian Atraksi Interpersonal
                 Menurut Barlund (dalam Rakhmat 2001) Atraksi interpersonal diperoleh dengan mengetahui siapa yang tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa, maka individu dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Misalnya makin tertarik individu kepada seseorang, makin besar kecenderungan individu berkomunikasinya. Kesukaan pada orang lain,sikap positif dan daya tarik seseorang disebut sebagai atraksi interpersonal.

b.         Faktor – factor penyebab timbulnya atraksi interpersonal
1.   Faktor personal
Faktor personal sangat menentukan timbulnya atraksi sesorang dengan orang lain. Adapun faktor-faktor personal yang mempengaruhi atraksi interpersonal, adalah sebagai berikut:
·         Kesamaan karakteristik personal
Kesamaan karakteristik personal ditandai dengan kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat/status sosisal ekonomi, agama, ideologi, dan lain-lain. Mereka yang memiliki kesamaan dalam hal-hal tadi, cenderung menyukai satu sama lain. Seseorang yang memiliki kesamaan karakteristik maka akan melakukan atraksi interpersonal positif yang sering. Sebaliknya orang yang tidak memiliki kesamaan karakteristik, maka orang tersebut akan jarang beratraksi interpersonal positif, sehingga cenderung menghindari komunikasi.
·         Tekanan emosional (stres)
Orang yang berada di bawah tekanan emosional, stres, bingung, cemas dan lain-lain akan menginginkan kehadiran orang lain untuk membantunya, sehingga kecenderungan untuk menyukai orang lain semakin besar. Kondisi emosional yang tidak stabil akan membuat
·         Harga diri yang rendah
Orang yang rendah diri cenderung mudah untuk menyukai orang lain. Orang yang merasa penampilan dirinya kurang menarik akan mudah menerima persahabatan dari orang lain. Dapat dikatakan orang yang memiliki harga diri yang rendah lebih adaptif dan luas dalam membangun jaringan sosialnya.
·         Isolasi social
Sebagai makhluk sosial, manusia mungkin tahan untuk hidup terasing selama beberapa waktu, namun tidak untuk waktu yang lama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat isolasi sosial sangat besar pengaruhnya terhadap kesukaan kita pada orang lain. Seorang yang menutup diri dan dan jarang menemui dunia luar biasanya akan cenderung melakukan atraksi interpersonal dengan menghindar  karena merasa dirinya terancam.
2.      Faktor-faktor situasional
·         Daya tarik fisik ( physical attractiveness)
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa daya tarik fisik seseorang sering menjadi penyebab utama atraksi interpersonal. Mereka yang berpenampilan cantik menarik biasanya lebih mudah mendapat perhatian dan simpati orang.  Penampilan fisik merupakan aspek pertama yang akan dipersepsi ketika pertama melihat. Seorang yang memiliki penampilan menarik akan mengundang banyak atraksi interpersonal dari orang lain, sebaliknya orang yang memiliki penampilan kurang menarik akan kurang mengundang orang lain untuk menunjukkan atraksi interpersonalnya.
·         Ganjaran (reward)
Pada umumnya seseorang akan menyukai orang yang memberikan ganjaran pada dirinya. Ganjaran bisa berupa bantuan, dorongan moral, pujian atau hal-hal yang meningkatkan harga diri kita. Banyak orang yang menunjukkan atrksi interpersonalnya karena mereka merasa diuntungkan dan sering mendapatkan ganjaran dari orang lain.
·         Familiarity
Seseorang atau hal-hal yang sudah kita kenal dan akrab dengan kita biasanya lebih disukai daripada hal-hal atau orang yang masih asing bagi kita.  Ketika kita sudah akrab dengan orang lain dan saling memahami konsep diri satu sama lain maka akan menunjukkan atraksi interpersonal yang positif diantara keduanya.
·         Kedekatan (proximity) atau closeness.
Hubungan kita dengan orang lain tergantung seberapa dekat kita dengan orang tersebut. Kedekatan kita dengan orang lain dapat dipengaruhi banyak hal, misalnya kesamaan hobi, jarak rumah yang dekat, kesamaan kota asal, dan lain-lain. Sebagai contoh, sejumlah kasus menunjukkan bahwa orang lebih menyukai orang lain berdekatan tempat tinggal dengannya.
·         Kemampuan (competence)
Terdapat kecenderungan bahwa seseorang lebih menyukai orang lain yang memiliki kemampuan lebih tinggi atau lebih berhasil dalam kehidupannya daripada dirinya. Orang yang sukses atau memiliki kemampuan lebih mereka cenderung akan pasif dalam bertraksi interpersonal karena orang lain yang kan lebih aktf.

D.    Hubungan interpersonal dalam komunikasi intrapersonal
            Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri antara self dengan god. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi lainnya. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Dapat dikatakan bahwa komunikasi intrapersonal merupakan bekal dalam hubungan interpersonal. Komunikasi intrapersonal dimaksudkan agar seseorang dapat lebih adaptif dalam membawa diri di lingkungan sosial. Sebelum memulai komunikasi interpersonal, komunikator melakukan komunikasi intrapersonal dengan memberikan pesan pada diri sendiri dan mempersepsinya sendiri, kemudian menjadi perintah yang akan pedoman dalam melakukan komunikasi antarpribadi.
            Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi, diantaranya : berdo’a, bersyukur, introspeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas dan berimajinasi secara kreatif.
`           Komunikasi intrapersonal dalam mempersepsi karakteristik seseorang akan menunjukkan seberapa sering kita melakukan komunikasi interpersonal, kemudian dari seberapa sering kita melakukan komunkiasi interpersonal akan menunjukkan seberapa besar kadar hubungan interpersonal dengan orang tersebut. Misalnya seseorang yang melakukan kesalahan dengan orang lain sehingga  menyebabkan hubungan interpersonal diantara keduanya buruk. Seseorang tersebut akan melakukan komunikasi intrapersonal dengan introspeksi diri lalu menyadari kesalahannya dan meminta maaf  setelah saling memaafkan hubungan mereka akan membaik sehingga kadar hubungan interpersonal diantara keduanya semakin besar kedekatannya.
           
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Persepsi interpersonal merupakan hal terpenting dalam komunikasi terutama komunikasi interpersonal. Karena persepsilah yang memberikan perintah untuk melakukan feedback yang sesuai dengan stimuli yang diterima. Komunikasi intrapersonal dengan memahami konsep diri sendiri menjadi langkah awal seseorang dalam interaksi sosial. Persepsi interpersonal yang menunjukkan atraksi interpersonal positif dapat menyebabkan hubungan interpersonal yang baik.

Saran
            Perilaku kita dalam komunikasi interpersonal amat bergantung pada persepsi interpersonal. Karena perspsi yang keliru, seringkali terjadi kegagalan dalam komunikasi. Kegagalan komunikasi dapat diperbaiki bila orang menyadari bahwa persepsinya mungkin salah. Komunikasi interpersonal kita akan menjadi lebih baik bila kita mengetahui bahwa persepsi kita bersifat subjektif dan cenderung keliru.


DAFTAR PUSTAKA

Jalaludin Rakhmat. ( 2009 ). Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Suranto, A.W. ( 2011 ). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : PT. Garaha Ilmu.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar