KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Disusun
Oleh :
1.
AGUNG
DWI SAPUTRO { 115 2000 289 }
2.
WINDA
YUNIARTI { 115 2000
255 }
3.
RAHMAD
WIJANARKO { 115 2000 265 }
4.
GALENDRA
SANDI WIJAYA { 115 2000 272 }
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN
NUSANTARA
SUKOHARJO
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Komunikasi merupakan hal terpenting dalam
kehidupan manusia yang sejatinya sebagai makhluk sosial. Kodrat
manusia yang saling membutuhkan menumbuhkan sebuah proses komunikasi antar
sesama. Dapat dikatakan komunikasi interpersonal mengembangkan individu dari dimennsi kesosialannya. Bersosialisasi
dengan orang lain secara tidak langsung menunjukkkan konsep diri yang
dimilikinya, sehingga lebih mudah
menemukan jati diri.
Secara umum manusia berkomunikasi dengan tujuan
menyampaikan pesan. Pesan disampaikan oleh komunikator kepada komunikan.
Keberhasilan sebuah komunikasi dipengaruhi oleh banyak hal, akan tetapi
kemampuan komunikan memahami sebuah pesan ( persepsi interpersonal )
sangat mendominasi. Persepsi interpersonal dalam komunikasi interpersonal yang
sesuai atau tidak sesuai dengan konsep diri akan menunjukkan atraksi
interpersonal seseorang sehingga seberapa jauh jarak keakraban dapat dilihat.
Perilaku kita dalam komunikasi interpersonal amat
bergantung pada persepsi interpersonal karena ketika komunikan tidak mampu
memahami pesan dari komunikator maka akan mengakibatkan kegagalan komunikasi
atau miskomunikasi yang dapat menyebabkan kebutuhan tak terpenuhi. Oleh sebab
itu persepsi interpersonal sangat penting dalam komunikasi interpersonal bagi
individu yang hidup di lingkungan sosial.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah
persepsi interpersonal itu?
2. Bagaimana
konsep diri dalam komunikasi interpersonal ?
3. Bagaimana
atraksi interpersonal dapat terjadi ?
4. Bagaimana
hubungan interpersonal dalam komunikasi intrapersonal ?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Memahami
pengertian persepsi interpersonal.
2. Mengetahui
letak konsep diri dalam komunikasi interpersonal.
3. Memahami
proses terjadinya atraksi interpersonal
.
4. Mengetahui
hubungan interpersonal dalam komunikasi intrapersonal.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Persepsi
Interpersonal
a.
Pengertian
Persepsi Interpersonal
Persepsi adalah
memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan informasi yang tertangkap
oleh alat indera. Persepsi interpersonal adalah memberikan makna terhadap
stimuli inderawi yang berasal dari seorang ( partner komunikasi ), yang berupa
pesan verbal maupun nonverbal. Persepsi memiliki peran yang sangat penting
dalam keberhasilan komunikasi. Artinya, kecermatan dalam mempersepsi stimuli
inderawi mengantarkan kepada keberhasilan komunikasi. Untuk tidak
mengaburkan istilah dan untuk menggarisbawahi manusia (bukan benda) sebagai
objek persepsi, disini digunakan istilah persepsi interpersonal. Persepsi
pada objek selain manusia kita sebut saja persepsi objek.
Mempersepsi
karakteristik seseorang akan berhadapan dengan aspek fisik dan mental, lahiriah
dan batiniah, jasmani dan rohani, sesuatu yang kelihatan dan tidak kelihatan.
Oleh karena itu mempersepsi orang jauh lebih sulit daripada mempaersepsi objek
( Benda ).
Mempersepsi Objek
|
Mempersepsi Manusia
|
Stimuli ditangkap oleh
indera
|
Tidak
seluruh stimuli dapat ditangkap oleh indera.
|
Hanya menanggapi
sifat-sifat luarnya saja.
|
Harus memahami
apa yang tidak tampak dan tidak tertangkap oleh indera.
|
Ketiak ditafsir, objek
diam ( tidak bereaksi )
|
Bereaksi
secara dinamis ketika ditafsirkan. Reaksi itu dapat mengalabuhi dan
membelokkan ketepatan dan kecermatan persepsi.
|
b.
Persepsi
interpersonal dalam teori
1.
Teori spiral kesunyian
Teori
spiral kesunyian/kebisuan diperkenalkan oleh Elizabet Noelleneuman, seorang guru besar ilmu komunikasi dari
institute fur publiztik jerman melalui tulisannya yang berjudul the spiral of silence pada tahun 1984. Teori
spiral kesunyian berkaitan dengan bagaimana terbentuknya pendapat umum maupun
pendapat pribadi, setelah dalam diri seseorang memperoleh terpaan informasi
dari komunikasi massa, komunikasi interpersonal, dan persepsi individu.
Menrurut
teori ini, individu pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi sendirian
mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu. Individu-individu tersebut akan
mengamati lingkungannya, memperhatikan opini-opini di media massa,
mempertimbangkan hasil komunikasi interpersonal dengan individu lain, dan juga
tidak melupakan persepsi individu. Setelah semuanya dipelajari maka ia akan
dapat menyimpulkan pandangan-pandangan mana yang bertahan atau yang paling
popular, sehingga pendapat yang dominan dan popular ini akan menjadi pendapat
umum.
2.
Teori Konvergensi
Teori
konvergensi (convergence theory of
communication), mengasumsikan bahwa komunikasi sebagai proses penciptaan
dan pembagian bersama informasi untuk tujuan saling pengertian bersama ( mutual understanding ). Pola
komunikasi interpersonal model konvergensi, berpengaruh pada objektivitas
persepsi seseorang kepada orang lain. Artinya, ada perubahan persepsi antara
sebelum dan sesudah proses komunikasi. Intinya, komunikasi interpersonal yang
berkesinambungan akan membawa dampak kepada perubahan persepsi di kedua belah
pihak. Tatkala anda berkomunikasi dengan saya, maka persepsi anda kepada diri
saya dan sebaliknya, akan mengalami perubahan.
c. Pengaruh
Faktor-faktor Situasional Pada Persepsi Interpersonal
·
Deskripsi Verbal
Menurut eksperimen Solomon E. Asch,
bahwa kata yang disebutkan pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya.
Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai primacy effect. Menurut
teori Asch, ada kata-kata tertentu yang mengarahkan seluruh penilaian kita
tentang orang lain. Walaupun teori Asch ini menarik untuk melukiskan bagaiana
cara orang menyampaikan berita tentang orang lain mempengaruhi persepsi kita
tentang orang itu, dalam kenyataan kita jarang melakukannya
·
Petunjuk Proksemik
Proksemik adalah studi tentang penggunaan jarak daam menyamaikan pesan;
istilah ini dilahirkan oleh antroplog intercultural Eward T. Hall. Hall membagi
jarak kedalam empat corak; jarak public, jarak sosial, jarak personal, dan
jarak akrab. Jarak yang dibuat individu dalam hubungannya dengan orang lain
menunjukkan tingkat keakraban di antara mereka. Jadi, kita menganggap orang
lain berdasarkan jarak yang dibuat orang itu dengan orang lain lagi, atau
jarak yang dibuat orang itu dengan kita.
Kita juga dapat menetapkan persepsi kita dengan melihat caranya orang itu
mengatur ruang.
·
Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues)
Petunjuk kinesik adalah persepsi yang didasarkan oleh gerakan tubuh orang
lain yang ditunjukkan kepada kita. Beberapa penelitian membuktikan bahwa
persepsi yang cermat tentang sifat-sifat dari pengamatan petunjuk kinesik.
Begitu pentingnya petunjuk kinesik, sehingga apabila petunjuk-petunjuk lalin
(seperti ucapan) bertentangan dengan petunjuk kinesik, orang mempercayai yang
terakhir.
·
Petunjuk Wajah
Penelitian Ekman dikritik karena ada kemungkinan keseragaman persepsi wajah
ini disebabkan kontak kultural bangsa-bangsa. Diantara berbagai petunjuk non
verbal, petunjuk fasial adalah yang paling penting dalam mengenali perasaan persona
stimuli. Ahli komunikasi non verbal, Dale G. Leather (1976:21), menulis; “Wajah
sudah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Inilah alat
yang sangat penting dalam menyampaikan makna. Dalam beberapa detik ungkapan
wajah dapat menggerakkan kita ke puncak keputusan. Kita menelaah wajah rekan
dan sahabat kita untuk perubahan-perubahan halus dan nuansa makna dan
mereka,pada gilirannya, menelaah kita”.
Walaupun petunjuk fasial dapat mengungkapkan emosi, tidak semua orang
mempersepsi emosi itu dengan cermat. Ada yang sangat sensitive pada wajah, ada
yang tidak. Sekarang para ahli psikologi sosial sudah menemukan ukuran
kecermatan persepsi wajah itu dengan tes yang disebut FMST-facial meaning
sensitivity test (tes kepekaan makna wajah). Dengan tes ini, kepekaan kita
menangkap emosi pada wajah orang lain dapat dinilai skornya.
·
Petunjuk Paralinguistik
Yang dimaksud paralinguistik ialah cara orang mengucapkan lambing-lambang
verbal. Jadi, jika petunjuk verbal menunjukkan aoa yang diucapkan, petunjuk
paralinguistik mencerminkan bagaimana mengucapkannya. Ini meliputi
tinggi-rendahnya suara, tempo bicara, gaya verbal (dialek), dan interaksi
(perilaku ketika melakukan komunikasi atau obrolan). Dialek yang digunakan
menentukan persepsi juga. Bila perilaku komunikasi (cara bicara) dapat
memberikan petunjuk tentang kepribadian persona stimuli, suara mengungkapkan
keadaan emosional.
·
Petunjuk Artifaktual
Petunjuk artifaktual meliputi segala macam penampilan (appearance)
sejak potongan tubuh, kosmetik yang dipakai, baju, pangkat, badge, dan
atribut-atribut lainnya. Bila kita mengetahui bahwa seseorang memiliki satu
sifat (misalnya, cantik atau jelek), kita beranggapan bahwa ia memiliki
sifat-sifat tertentu (misalnya,periang atau penyedih); ini disebut halo
effect. Bila kita sudah menyenangi seseorang, maka kita cenderung melihat
sifat-sifat baik pada orang itu dan sebaliknya.
Selain berbagai petunjuk diatas, petunjuk verbal juga mempunyai peran. Yang
dimaksud dengan petunjuk verbal disini adalah isi komunikasi persona
stimuli, bukan cara. Misalnya, orang yang menggunakan pilihan kata-kata
yang tepat, mengorganisasikan pesan secara sistematis, mengungkapkan pikiran
yang dalam dan komprehensif, akan menimbulkan kesan bahwa orang itu cerdas dan
terpelajar.
d. Pengaruh
Faktor-faktor Personal Pada Persepsi Interpersonal
·
Pengalaman
Pengalaman mempengaruhi kecermatan persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat
proses belajar formal. Pengalaman kita bertambah juga melalui rangkaian
peristiwa yang pernah kita hadapi. Inilah yang menyebabkan seorang ibu segera
melihat hal yang tidak beres pada wajah anaknya atau pada petunjuk kinesik
lainnya.
·
Motivasi
Proses konstruktif yang banyak mewarnai persepsi interpersonal juga sangat
banyak melibatkan unsur-unsur motivasi. Diantara mootivasi yang pernah diteliti
antar lain motif biologis, ganjaran dan hukuman, karakteristik kepribadian, dan
perasaan terancam karena pesona stimuli.
·
Kepribadian
Dalam psikoanalisis dikenal proyeksi, sebagai salah satu cara
pertahanan ego. Proyeksi adalah mengeksternalisasikan pengalaman subjektif
secara tidak sadar. Orang melempar perasaan bersalahnya pada orang lain. Pada
persepsi interpersonal, orang mengenakan pada orang lain sifat-sifat yang ada
pada dirinya, yang tidak disenanginya.
Kepribadian otoriter adalah sindrom kepribadian yang ditandai oleh
ketegaran berpegang pada nilai-nilai konvensional, hasrat yang berkuasa yang
tinggi, kekakuan dalam hubungan interpersonal, kecenderungan melemparkan
tanggung jawab pada sesuatu diluar dirinya.
e. Pengaruh
Persepsi Interpersonal Pada Komunikasi Interpersonal
Persepsi interpersonal disebut inti komumikasi
interpersonal, karena jika persepsi kita tidak akurat, tidak mungkin kita berkomunikasi secara efektif. Persepsilah
yang menentukan kita memilih suatu pesan dan
mengabaikan pesan yang lain , memilih seorang teman dan mengabaikan
teman lain.
Dengan demikian, cara kita berkomunikasi secara
interpersonal sangat dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap partner
komunikasi. Apabila persepsi kita positif, kita akan melakukan komunikasi
dengan nyaman. Sebaliknya apabila kita mempunyai persepsi negatif terhadap
seseorang, maka kita akan berusa membatasi diri sehingga tidak berkomunikasi
terlalu mendalam dengan orang tersebut.
B. Konsep Diri
a. Pengertian Konsep Diri
Jalaludin Rakhmad ( 1996 : 99 ) mendefinisikan konsep diri sebagai
gambaran dan penilaian diri kita, pandangan dan perasaan kita tentang diri kita
sendiri. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat ditegaskan bahwa setiap orang
pastilah mengenali dirinya sendiri. Konsep diri merupakan factor yang sangat
menentukan dalam berkomunikasi interpersonal karena setiap orang melakukan
tindakan dilandasi oleh konsep diri.
Charles Horton cooley mengemukakan teori yang bernama looking glass
self ( melihat diri dengan bercermin ). Artinya bahwa setiap orang dapat
mengenali dirinya sendiri, dengan cara seolah-olah orang menaruh cermin di
depannya, dan dengan demikian maka profil diri orang itu dapat dikenalinya.
Dalam hal ini istilah “cermin” bersifat kiasan saja. Sesungguhnya kita tidak
berhadapan dengan cermin, melainkan berhadapan dengan orang lain. Kepada orang
itu kita tanyakan penilaiannya mengenali diri kita. Jadi penilaian orang atas
diri kita itulah gambaran yang objektif tentang diri kita berdasarkan sudut
pandang orang lain.
b.
Pengaruh
konsep diri dalam komunikasi interpersonal
·
Nubuat yang dipenuhi sendiri
Kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai dengan
konsep diri disebut sebagai nubuat yang dipenuhi sendiri. Sukses komunikasi
interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri; positif atau
negatif. Brooks
dalam Rakhmat (2004:105), mengindentifikasi konsep diri manusia menjadi positif
dan negatif. Adapun ciri orang yang
memiliki konsep diri negatif :
1. Peka pada kritik
2. sangat responsif terhadap pujian
3. Sikap hiperkritis, Sikap berlebihan
dalam melakukan penilaian terhadap orang lain. ia selalu mencela, mengeluh,
meremehkan, dan tak pandai dan tak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan
terhadap kelebihan orang lain.
4. Merasa tidak disenangi orang lain,
merasa tidak diperhatikan, hingga ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh,
sehingga tak dapat merasakan kehangatan persahabatan.
5. Pesimis untuk bersaing dalam sebuah
kompetisi.
Sebaliknya
orang yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan lima hal:
1.
Yakin
pada kemampuannya mengatasi masalah
2.
Merasa
setara dengan orang lain
3.
Ia
menerima pujian tanpa rasa malu
4.
Ia
sadar, bahwa setiap orang mempunyai berbagai macam perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui
masyarakat.
5.
Ia
mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek
kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
·
Membuka diri
Pengetahuan
tentang diri akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama,
berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita.
Dengan membuka diri, konsep diri menjadi lebih dekat pada kenyataan. Bila
konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk
menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan-gagasan baru, lebih cenderung
menghindari sikap defensive, dan lebih cermat memandang diri kita dan rang
lain.
·
Percaya diri
Keinginan
untuk menutup diri, selain karena konsep diri yang negative timbul dari kurangnya
kepercayaan kepada kemampuan sendiri. Orang yang tidak menyenangi dirinya
merasa bahwa dirinya tidak akan mampu mengatasi persoalan. Orang yang kurang
percaya diri akan cenderung sedapat mungkin menghindari situasi komunikasi. Ia
takut orang lain akan mengejeknya atau menyalahkannya. Dalam diskusi, ia akan
lebih banyak diam. Dalam pidato, ia berbicara terpatah-patah.
·
Selektivitas
Konsep
diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi
kepada pesan apa anda bersedia memuka diri. Dengan singkat konsep diri
menyebabkan terpaan selektif, persepsi selektif, dan ingatan selektif.
c.
Faktor
yang mempengaruhi konsep diri
Rakhmat
dalam bukunya Psikologi Komunikasi (2004:100) memaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri
, antara lain:
1. Orang lain.
Sebagai
mana dibahasakan diatas bahwa orang lain mempunyai pengaruh terhadap individu
dalam menyimpulakan konsep dirinya. Kita sepakat bahwa orang lain mempunyai
pengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Tetapi, tidak semua orang lain
mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Adayang paling berpengaruh,
yaitu orang-orang yang paling dekat dengan diri kita. George Herbert Mead dalam
Rakhmat (2004:101) menyebut mereka Significant others – orang lain yang
sangat penting.
2. Kelompok rujukan
Dalam
bermasyarakat kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok masyarakat. Setiap
kelompok mempunyai norma-norma tertentu. Ada kelompok yang secara emosional
mengikat kita dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Dengan
melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri
dengan ciri-ciri kelompoknya. ketika kita menjadi anggota kelompok persatuan
bulu tangkis, ikatan mahasiswa Universitas Trunojoyo madura, dan lain-lain.
C. Atraksi
Interpersonal
a.
Pengertian
Atraksi Interpersonal
Menurut
Barlund (dalam Rakhmat 2001) Atraksi interpersonal diperoleh dengan mengetahui
siapa yang tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa, maka individu
dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Misalnya
makin tertarik individu kepada seseorang, makin besar kecenderungan individu
berkomunikasinya. Kesukaan pada orang lain,sikap positif dan daya tarik seseorang
disebut sebagai atraksi interpersonal.
b.
Faktor
– factor penyebab timbulnya atraksi interpersonal
1.
Faktor
personal
Faktor personal sangat menentukan
timbulnya atraksi sesorang dengan orang lain. Adapun faktor-faktor personal
yang mempengaruhi atraksi interpersonal, adalah sebagai berikut:
·
Kesamaan
karakteristik personal
Kesamaan karakteristik personal
ditandai dengan kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat/status
sosisal ekonomi, agama, ideologi, dan lain-lain. Mereka yang memiliki kesamaan
dalam hal-hal tadi, cenderung menyukai satu sama lain. Seseorang yang memiliki
kesamaan karakteristik maka akan melakukan atraksi interpersonal positif yang
sering. Sebaliknya orang yang tidak memiliki kesamaan karakteristik, maka orang
tersebut akan jarang beratraksi interpersonal positif, sehingga cenderung
menghindari komunikasi.
·
Tekanan
emosional (stres)
Orang yang
berada di bawah tekanan emosional, stres, bingung, cemas dan lain-lain akan
menginginkan kehadiran orang lain untuk membantunya, sehingga kecenderungan
untuk menyukai orang lain semakin besar. Kondisi emosional yang tidak stabil
akan membuat
·
Harga
diri yang rendah
Orang yang rendah diri cenderung
mudah untuk menyukai orang lain. Orang yang merasa penampilan dirinya kurang
menarik akan mudah menerima persahabatan dari orang lain. Dapat dikatakan orang
yang memiliki harga diri yang rendah lebih adaptif dan luas dalam membangun
jaringan sosialnya.
·
Isolasi
social
Sebagai makhluk sosial, manusia
mungkin tahan untuk hidup terasing selama beberapa waktu, namun tidak untuk
waktu yang lama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat isolasi sosial
sangat besar pengaruhnya terhadap kesukaan kita pada orang lain. Seorang yang
menutup diri dan dan jarang menemui dunia luar biasanya akan cenderung
melakukan atraksi interpersonal dengan menghindar karena merasa dirinya terancam.
2.
Faktor-faktor
situasional
·
Daya
tarik fisik ( physical attractiveness)
Beberapa
penelitian mengungkapkan bahwa daya tarik fisik seseorang sering menjadi
penyebab utama atraksi interpersonal. Mereka yang berpenampilan cantik menarik
biasanya lebih mudah mendapat perhatian dan simpati orang. Penampilan fisik merupakan aspek pertama yang
akan dipersepsi ketika pertama melihat. Seorang yang memiliki penampilan
menarik akan mengundang banyak atraksi interpersonal dari orang lain,
sebaliknya orang yang memiliki penampilan kurang menarik akan kurang mengundang
orang lain untuk menunjukkan atraksi interpersonalnya.
·
Ganjaran
(reward)
Pada
umumnya seseorang akan menyukai orang yang memberikan ganjaran pada dirinya.
Ganjaran bisa berupa bantuan, dorongan moral, pujian atau hal-hal yang
meningkatkan harga diri kita. Banyak orang yang menunjukkan atrksi
interpersonalnya karena mereka merasa diuntungkan dan sering mendapatkan
ganjaran dari orang lain.
·
Familiarity
Seseorang atau hal-hal yang sudah kita kenal dan akrab dengan kita biasanya lebih disukai daripada hal-hal atau orang yang masih asing bagi kita. Ketika kita sudah akrab dengan orang lain dan saling memahami konsep diri satu sama lain maka akan menunjukkan atraksi interpersonal yang positif diantara keduanya.
Seseorang atau hal-hal yang sudah kita kenal dan akrab dengan kita biasanya lebih disukai daripada hal-hal atau orang yang masih asing bagi kita. Ketika kita sudah akrab dengan orang lain dan saling memahami konsep diri satu sama lain maka akan menunjukkan atraksi interpersonal yang positif diantara keduanya.
·
Kedekatan
(proximity) atau closeness.
Hubungan kita dengan orang lain
tergantung seberapa dekat kita dengan orang tersebut. Kedekatan kita dengan
orang lain dapat dipengaruhi banyak hal, misalnya kesamaan hobi, jarak rumah
yang dekat, kesamaan kota asal, dan lain-lain. Sebagai contoh, sejumlah kasus
menunjukkan bahwa orang lebih menyukai orang lain berdekatan tempat tinggal
dengannya.
·
Kemampuan
(competence)
Terdapat
kecenderungan bahwa seseorang lebih menyukai orang lain yang memiliki kemampuan
lebih tinggi atau lebih berhasil dalam kehidupannya daripada dirinya. Orang
yang sukses atau memiliki kemampuan lebih mereka cenderung akan pasif dalam
bertraksi interpersonal karena orang lain yang kan lebih aktf.
D. Hubungan interpersonal
dalam komunikasi intrapersonal
Komunikasi
intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri
komunikator sendiri antara self dengan god. Komunikasi intrapersonal merupakan
keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari
pesan-pesan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi
lainnya. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi,
maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Dapat
dikatakan bahwa komunikasi intrapersonal merupakan bekal dalam hubungan
interpersonal. Komunikasi intrapersonal dimaksudkan agar seseorang dapat lebih
adaptif dalam membawa diri di lingkungan sosial. Sebelum memulai komunikasi
interpersonal, komunikator melakukan komunikasi intrapersonal dengan memberikan
pesan pada diri sendiri dan mempersepsinya sendiri, kemudian menjadi perintah
yang akan pedoman dalam melakukan komunikasi antarpribadi.
Aktivitas dari
komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri
pribadi, diantaranya : berdo’a, bersyukur, introspeksi diri dengan meninjau
perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas dan
berimajinasi secara kreatif.
` Komunikasi
intrapersonal dalam mempersepsi karakteristik seseorang akan menunjukkan
seberapa sering kita melakukan komunikasi interpersonal, kemudian dari seberapa
sering kita melakukan komunkiasi interpersonal akan menunjukkan seberapa besar
kadar hubungan interpersonal dengan orang tersebut. Misalnya seseorang yang
melakukan kesalahan dengan orang lain sehingga
menyebabkan hubungan interpersonal diantara keduanya buruk. Seseorang
tersebut akan melakukan komunikasi intrapersonal dengan introspeksi diri lalu
menyadari kesalahannya dan meminta maaf setelah saling memaafkan hubungan mereka akan
membaik sehingga kadar hubungan interpersonal diantara keduanya semakin besar
kedekatannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Persepsi interpersonal
merupakan hal terpenting dalam komunikasi terutama komunikasi interpersonal. Karena
persepsilah yang memberikan perintah untuk melakukan feedback yang
sesuai dengan stimuli yang diterima. Komunikasi intrapersonal dengan memahami
konsep diri sendiri menjadi langkah awal seseorang dalam interaksi sosial.
Persepsi interpersonal yang menunjukkan atraksi interpersonal positif dapat
menyebabkan hubungan interpersonal yang baik.
Saran
Perilaku kita dalam komunikasi
interpersonal amat bergantung pada persepsi interpersonal. Karena perspsi yang
keliru, seringkali terjadi kegagalan dalam komunikasi. Kegagalan komunikasi
dapat diperbaiki bila orang menyadari bahwa persepsinya mungkin salah.
Komunikasi interpersonal kita akan menjadi lebih baik bila kita mengetahui
bahwa persepsi kita bersifat subjektif dan cenderung keliru.
DAFTAR
PUSTAKA
Jalaludin Rakhmat. ( 2009 ). Psikologi Komunikasi. Bandung :
PT. Remaja
Rosdakarya.
Suranto, A.W. ( 2011 ). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta :
PT. Garaha Ilmu.
http://id.m.wikipedia.org/wiki/komunikasi_intrapersonal ( diakses 31 Oktober 2013 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar